Selasa, 22 Januari 2019

Tugas softskil 4id12

Perbaikan Disain Alat Pencacah Pelepah Sawit untuk Mengurangi Keluhan Sakit Peternak Sapi


Pendahuluan.
Pekerjaan dengan beban berat dan frekuensi tinggi serta berulang akan menimbulkan keluhan rasa sakit operator. Keluhan disebabkan otot menerima tekanan akibat gaya dari pengangkutan beban kerja fisik terus menerus secara berulang tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi. Postur kerja tidak alamiah, peregangan otot berlebihan, getaran dengan frekuensi tinggi, dan tekanan langsung pada jaringan otot lunak dapat menyebabkan keluhan rasa sakit (Anizar, 2015). Nyeri muskuloskeletal kronis umum terjadi pada pekerja tani yang dipengaruhi oleh posisi kerja (Xiao, 2013). Fasilitas yang dipergunakan oleh operator akan menjadi potensi bagi masalah kesehatan dan keselamatan kerja seperti nyeri otot yang disebabkan oleh keseleo atau dislokasi karena beban berlebih, gerakan berulang dan postur kerja canggung (Mandang, 2015). Manusia beresiko mengalami gangguan fisik maupun mental sebagai akibat ketidaksesuaian kondisi fisik dan mental manusia dengan kondisi lingkungan kerja. Gangguan fisik dapat berupa cedera otot atau tulang, kelelahan, pembengkakan, iritasi termasuk pula munculnya Musculoskeletal Disorders (MSDs). Exposure MSDs yang tinggi salah satunya disebabkan oleh peralatan yang terlalu berat (Fahmi, 2014). Kondisi kerja yang memaksa postur kerja manusia seperti badan membungkuk, kaki menekuk, dan frekuensi kegiatan repetitive (berulang) dapat mengakibatkan keluhan fisik. Salah satu dampak yang ditimbulkan keluhan fisik yaitu penurunan performansi kerja atau pegal pada sistem otot-rangka untuk melakukan kegiatan dalam waktu yang lama. Keluhan pekerja terhadap rasa sangat sakit pada bagian lutut dan kaki disebabkan posisi kaki yang tidak seimbang dan fasilitas kerja yang tidak sesuai mengakibatkan kaki sering mengalami kram. Analisis dari lembar kerja REBA menunjukkan bahwa tingkat resiko tinggi dialami pekerja pada saat kegiatan produksi berlangsung sehingga dibutuhkan adanya perbaikan pada fasilitas kerja yang disesuaikan dengan dimensi tubuh (Hasibuan, 2014)

Metode penelitian
Penelitian ini difokuskan pada proses pencacahan pelepah sawit yang dilakukan oleh 10 orang peternak. Pengamatan terhadap kegiatan pencacahan pelepah sawit dengan menggunakan alat pencacah dilakukan selama 10 hari. Peternak sapi memasukkan pelepah sawit ke corong pengumpan secara berulang selama 6 jam dalam sehari. Elemen kegiatan yang dilakukan peternak sapi pada kegiatan pencacahan pelepah sawit adalah menghidupkan mesin dan memasukkan pelepah sawit ke corong pengumpan. Penilaian postur kerja dilakukan terhadap tubuh peternak sapi pada bagian kanan dan kiri menggunakan lembaran penilaian Rapid Entire Body Assessment (REBA). Faktor postur tubuh yang dinilai dibagi atas dua kelompok utama atau grup yaitu grup A yang terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri batang tubuh A(trunk), leher (neck) dan kaki (legs). Grup B terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist). Skor yang diperoleh dari grup A dan grup B akan dimasukkan ke tabel C sehingga skor REBA merupakan penjumlahan nilai tabel C dengan nilai aktivitas. 
Penentuan karakteristik QFD dilakukan mulai dari klasifikasi tujuan, penetapan fungsi, penyusunan kebutuhan hingga penentuan karakteristik. Data karakteristik teknik digunakan untuk melihat kemungkinan mewujudkan rancangan. Teknik pengambilan data dengan purposive sampling dengan tenaga terampil berjumlah 7 orang. Langkah yag dilakukan adalah penyebaran kuesioner tertutup kepada 10 orang peternak untuk mengidetifikasi keinginan peternak dalam bentuk atribut produk dan penggunaan house of quality untuk menerjemahkan keinginan peternak. Dimensi atribut dari alat pencacah pelepah sawit yang ditanyakan adalah dimensi tabung, tinggi alat, bahan kerangka, bahan tabung pencacah, fungsi tambahan dari alat pencacah, desain pisau pemotong, desain penutup tabung, putaran mesin, cara menghidupkan mesin dan warna alat. Kuesioner tertutup untuk kinerja atribut disusun dengan memberikan penilaian atas atribut pencacah pelepah sawit dengan skala likert. Nilai yang digunakan terdiri dari A bernilai 5 jika performansi sangat baik, B bernilai 4 jika performasi baik, C bernilai 3 jika performansi cukup, D bernilai 2 jika performansi buruk dan E bernilai 1 jika berformansi sangat buruk. Desain alat pencacah pelepah sawit dilakukan pengujian validitas dengan teknik korelasi product moment menggunakan rumus :               2 2 2 2 ( ) ( ) ( )( )

Hasil dan pembahasan.
a. Keluhan sakit peternak sapi
Keluhan sakit peternak sapi pada proses pencacahan pelepah sawit berbeda antara satu peternak dengan peternak lainnya namun keluhan sakit terdapat pada semua segmen tubuh. Umumnya peternak mengeluhkan rasa sakit pada siku kanan sebanyak 6,81%, pinggang sebanyak 6,53%, diikuti oleh bahu kanan, tangan kanan dan pergelangan tangan kanan sebanyak 6,26%, bahu kiri sebanyak 5,45%, bokong dan pantat sebanyak 5,17%. Sebaran keluhan yang dialami peternak disebabkan postur kerja yang tidak ergonomis saat memasukkan pelepah sawit ke corong pencacahan karena fasilitas kerja yang digunakan tidak sesuai dengan dimensi tubuh peternak. Perbaikan terhadap disain alat pencacah akan meminimalkan keluhan rasa sakit yang timbul.

b. Penilaian postur kerja
Penilaian postur kerja peternak sapi pada kegiatan pencacahan pelepah sawit dilakukan terhadap 2 elemen kegiatan yaitu menghidupkan mesin pencacah dan memasukkan pelepah sawit ke corong pengumpan. Elemen kegiatan menghidupkan mesin pada grup A didapati batang tubuh membungkuk ke samping kiri, leher membentuk sudut kurang dari 20o , kaki menekuk membentuk sudut antara 30o dan 60o dengan berat beban melebihi 5 kg sehingga memperoleh skor 5. Pada grup B didapati bahwa lengan atas membentuk sudut antara 20o hingga 45o , lengan bawah membentuk sudut 600 hingga1000 , sudut pergelangan tangan melebihi 15o dengan kekuatan pegangan tidak aman sehingga perolehan skor sebesar 7. Perolehan skor REBA untuk elemen kegiatan menghidupkan mesin adalah 9. Elemen kegiatan memasukkan pelepah ke corong pengumpan pada grup A didapati batang tubuh membungkuk, leher membentuk sudut sudut melebihi 20o , kaki menekuk membentuk sudut 30o hingga 60o dengan beban lebih dari 5 kg sehingga perolehan skor 5. Pada grup B didapati lengan atas membentuk sudut 45o hingga 90o , lengan bawah membentuk sudut 600 hingga 1000 dengan sudut pergelangan tangan melebihi 15o dan kekuatan pegangan cukup baik tapi tidak ideal sehingga perolehan skor 5. Perolehan skor REBA untuk elemen kegiatan memasukkan pelepah ke corong pengumpan adalah 8. Rekapitulasi penilaian postur kerja untuk kedua elemen kegiatan tertera pada Tabel 1. Tabel 1 Rekapitulasi Penilaian Postur Kerja No Elemen kegiatan Bagian tubuh Skor REBA Level Resiko Tindakan 1 Menghidupkan mesin pada alat pencacah pelepah sawit kanan 9 Tinggi Perlu tindakan segera kiri 6 Sedang Perlu tindakan 2 Memasukkan pelepah sawit ke corong pengumpan mesin pencacah pelepah sawit kanan 8 Tinggi Perlu tindakan segera kiri 8 Tinggi Perlu tindakan segera Bagian tubuh kanan mendapatkan skor REBA 9 dengan level resiko tinggi disebabkan menghidupkan mesin dengan cara diengkol sehinga sangat membebani tubuh dan membutuhkan tindakan segera. Bagian tubuh kanan dan kiri pada elemen kegiatan memasukkan pelepah sawit ke corong pengumpan mendapatkan skor REBA 8 dengan level resiko tinggi disebabkan tubuh harus membungkuk, kaki tertekuk dan leher menunduk saat memasukkan pelepah sawit ke dalam corong pengumpan alat pencacah pelepah sawit sehingga diperlukan tindakan segera. Perbaikan desain alat pencacah diharapkan dapat mengurangi level resiko

c. desain alat pencacah sapi
Alat pencacah pelepah sawit dirancang berdasarkan kebutuhan peternak dengan menggunakan metode pohon tujuan (Objectives Tree Method). Skala prioritas tujuan diperoleh dengan mengurutkan tujuan perancangan dari level tertinggi hingga level terendah. Alat pencacah pelepah sawit memiliki 5 tujuan utama yaitu bahan pembuat, dimensi alat, desain alat, fungsi dan atribut tambahan. Atribut bahan dari alat pencacah sawit mempertimbangkan bahan kerangka dengan pilihan besi U, besi siku dan besi H dan bahan tabung pencacah dengan ketebalan plat 2 mm, 3 mm atau 5 mm. Atribut dimensi mempertimbangkan dimensi tabung dengan pilihan diameter 45 cm dan panjang 75 cm atau dimensi 50 cm dan panjang 75 cm. Sedangkan tinggi alat pencacah memiliki pilihan 80 cm, 100 cm atau 110 cm. Atribut desain terdiri dari pisau pemotong dengan pilihan mudah diganti atau lainnya, desain penutup tabung yang terdiri atas engsel dan kait pengunci, pilihan putaran mesin 1600 rpm, 2000 rpm atau 2200 rpm. Cara menghidupkan mesin terdiri dari starter elektrik atau manual dengan engkol. Atribut fungsi memiliki tambahan penarik pelepah otomatis sedangkan atribut warna terdiri atas warna orange, hijau dan merah. Atribut desain alat pencacah pelepah sawit dituangkan dalam bentuk pohon tujuan sehingga diketahui tujuan utama dan tujuan tambahan. Hubungan antara tujuan utama dan tujuan tambahan terlihat jelas dalam digram sistematis.


Sumber : https://satelit.ub.ac.id/index.php/satelit/article/view/1/1 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar