Perbaikan Disain Alat Pencacah Pelepah Sawit
untuk Mengurangi Keluhan Sakit Peternak Sapi
Pendahuluan.
Pekerjaan dengan beban berat dan frekuensi tinggi serta berulang akan menimbulkan
keluhan rasa sakit operator. Keluhan disebabkan otot menerima tekanan akibat gaya dari
pengangkutan beban kerja fisik terus menerus secara berulang tanpa memperoleh kesempatan
untuk relaksasi. Postur kerja tidak alamiah, peregangan otot berlebihan, getaran dengan frekuensi
tinggi, dan tekanan langsung pada jaringan otot lunak dapat menyebabkan keluhan rasa sakit
(Anizar, 2015). Nyeri muskuloskeletal kronis umum terjadi pada pekerja tani yang dipengaruhi
oleh posisi kerja (Xiao, 2013). Fasilitas yang dipergunakan oleh operator akan menjadi potensi
bagi masalah kesehatan dan keselamatan kerja seperti nyeri otot yang disebabkan oleh keseleo
atau dislokasi karena beban berlebih, gerakan berulang dan postur kerja canggung (Mandang,
2015). Manusia beresiko mengalami gangguan fisik maupun mental sebagai akibat
ketidaksesuaian kondisi fisik dan mental manusia dengan kondisi lingkungan kerja. Gangguan
fisik dapat berupa cedera otot atau tulang, kelelahan, pembengkakan, iritasi termasuk pula
munculnya Musculoskeletal Disorders (MSDs). Exposure MSDs yang tinggi salah satunya
disebabkan oleh peralatan yang terlalu berat (Fahmi, 2014). Kondisi kerja yang memaksa postur
kerja manusia seperti badan membungkuk, kaki menekuk, dan frekuensi kegiatan repetitive
(berulang) dapat mengakibatkan keluhan fisik. Salah satu dampak yang ditimbulkan keluhan fisik
yaitu penurunan performansi kerja atau pegal pada sistem otot-rangka untuk melakukan kegiatan
dalam waktu yang lama. Keluhan pekerja terhadap rasa sangat sakit pada bagian lutut dan kaki
disebabkan posisi kaki yang tidak seimbang dan fasilitas kerja yang tidak sesuai mengakibatkan
kaki sering mengalami kram. Analisis dari lembar kerja REBA menunjukkan bahwa tingkat resiko
tinggi dialami pekerja pada saat kegiatan produksi berlangsung sehingga dibutuhkan adanya
perbaikan pada fasilitas kerja yang disesuaikan dengan dimensi tubuh (Hasibuan, 2014)
Metode penelitian
Penelitian ini difokuskan pada proses pencacahan pelepah sawit yang dilakukan oleh 10 orang
peternak. Pengamatan terhadap kegiatan pencacahan pelepah sawit dengan menggunakan alat
pencacah dilakukan selama 10 hari. Peternak sapi memasukkan pelepah sawit ke corong
pengumpan secara berulang selama 6 jam dalam sehari. Elemen kegiatan yang dilakukan peternak
sapi pada kegiatan pencacahan pelepah sawit adalah menghidupkan mesin dan memasukkan
pelepah sawit ke corong pengumpan. Penilaian postur kerja dilakukan terhadap tubuh peternak
sapi pada bagian kanan dan kiri menggunakan lembaran penilaian Rapid Entire Body Assessment
(REBA). Faktor postur tubuh yang dinilai dibagi atas dua kelompok utama atau grup yaitu grup A
yang terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri batang tubuh A(trunk), leher (neck) dan kaki (legs).
Grup B terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower
arm), dan pergelangan tangan (wrist). Skor yang diperoleh dari grup A dan grup B akan
dimasukkan ke tabel C sehingga skor REBA merupakan penjumlahan nilai tabel C dengan nilai
aktivitas.
Penentuan karakteristik QFD dilakukan mulai dari klasifikasi tujuan, penetapan fungsi,
penyusunan kebutuhan hingga penentuan karakteristik. Data karakteristik teknik digunakan untuk
melihat kemungkinan mewujudkan rancangan. Teknik pengambilan data dengan purposive
sampling dengan tenaga terampil berjumlah 7 orang. Langkah yag dilakukan adalah penyebaran
kuesioner tertutup kepada 10 orang peternak untuk mengidetifikasi keinginan peternak dalam
bentuk atribut produk dan penggunaan house of quality untuk menerjemahkan keinginan peternak.
Dimensi atribut dari alat pencacah pelepah sawit yang ditanyakan adalah dimensi tabung, tinggi
alat, bahan kerangka, bahan tabung pencacah, fungsi tambahan dari alat pencacah, desain pisau
pemotong, desain penutup tabung, putaran mesin, cara menghidupkan mesin dan warna alat.
Kuesioner tertutup untuk kinerja atribut disusun dengan memberikan penilaian atas atribut
pencacah pelepah sawit dengan skala likert. Nilai yang digunakan terdiri dari A bernilai 5 jika
performansi sangat baik, B bernilai 4 jika performasi baik, C bernilai 3 jika performansi cukup, D
bernilai 2 jika performansi buruk dan E bernilai 1 jika berformansi sangat buruk.
Desain alat pencacah pelepah sawit dilakukan pengujian validitas dengan teknik korelasi
product moment menggunakan rumus :
2 2 2 2
( ) ( )
( )( )
Hasil dan pembahasan.
a. Keluhan sakit peternak sapi
Keluhan sakit peternak sapi pada proses pencacahan pelepah sawit berbeda antara satu
peternak dengan peternak lainnya namun keluhan sakit terdapat pada semua segmen tubuh.
Umumnya peternak mengeluhkan rasa sakit pada siku kanan sebanyak 6,81%, pinggang
sebanyak 6,53%, diikuti oleh bahu kanan, tangan kanan dan pergelangan tangan kanan sebanyak
6,26%, bahu kiri sebanyak 5,45%, bokong dan pantat sebanyak 5,17%. Sebaran keluhan yang
dialami peternak disebabkan postur kerja yang tidak ergonomis saat memasukkan pelepah sawit
ke corong pencacahan karena fasilitas kerja yang digunakan tidak sesuai dengan dimensi tubuh
peternak. Perbaikan terhadap disain alat pencacah akan meminimalkan keluhan rasa sakit yang
timbul.
b. Penilaian postur kerja
Penilaian postur kerja peternak sapi pada kegiatan pencacahan pelepah sawit dilakukan
terhadap 2 elemen kegiatan yaitu menghidupkan mesin pencacah dan memasukkan pelepah sawit
ke corong pengumpan. Elemen kegiatan menghidupkan mesin pada grup A didapati batang tubuh
membungkuk ke samping kiri, leher membentuk sudut kurang dari 20o
, kaki menekuk
membentuk sudut antara 30o
dan 60o
dengan berat beban melebihi 5 kg sehingga memperoleh
skor 5. Pada grup B didapati bahwa lengan atas membentuk sudut antara 20o
hingga 45o
, lengan
bawah membentuk sudut 600
hingga1000
, sudut pergelangan tangan melebihi 15o
dengan
kekuatan pegangan tidak aman sehingga perolehan skor sebesar 7. Perolehan skor REBA untuk
elemen kegiatan menghidupkan mesin adalah 9. Elemen kegiatan memasukkan pelepah ke
corong pengumpan pada grup A didapati batang tubuh membungkuk, leher membentuk sudut
sudut melebihi 20o
, kaki menekuk membentuk sudut 30o
hingga 60o
dengan beban lebih dari 5 kg
sehingga perolehan skor 5. Pada grup B didapati lengan atas membentuk sudut 45o
hingga 90o
,
lengan bawah membentuk sudut 600
hingga 1000
dengan sudut pergelangan tangan melebihi 15o
dan kekuatan pegangan cukup baik tapi tidak ideal sehingga perolehan skor 5. Perolehan skor
REBA untuk elemen kegiatan memasukkan pelepah ke corong pengumpan adalah 8. Rekapitulasi
penilaian postur kerja untuk kedua elemen kegiatan tertera pada Tabel 1.
Tabel 1 Rekapitulasi Penilaian Postur Kerja
No Elemen kegiatan Bagian tubuh Skor
REBA
Level Resiko Tindakan
1 Menghidupkan mesin
pada alat pencacah
pelepah sawit
kanan 9 Tinggi Perlu tindakan
segera
kiri 6 Sedang Perlu tindakan
2 Memasukkan pelepah
sawit ke corong
pengumpan mesin
pencacah pelepah
sawit
kanan 8 Tinggi Perlu tindakan
segera
kiri 8 Tinggi Perlu tindakan
segera
Bagian tubuh kanan mendapatkan skor REBA 9 dengan level resiko tinggi disebabkan
menghidupkan mesin dengan cara diengkol sehinga sangat membebani tubuh dan membutuhkan
tindakan segera. Bagian tubuh kanan dan kiri pada elemen kegiatan memasukkan pelepah sawit
ke corong pengumpan mendapatkan skor REBA 8 dengan level resiko tinggi disebabkan tubuh
harus membungkuk, kaki tertekuk dan leher menunduk saat memasukkan pelepah sawit ke dalam
corong pengumpan alat pencacah pelepah sawit sehingga diperlukan tindakan segera. Perbaikan
desain alat pencacah diharapkan dapat mengurangi level resiko
c. desain alat pencacah sapi
Alat pencacah pelepah sawit dirancang berdasarkan kebutuhan peternak dengan
menggunakan metode pohon tujuan (Objectives Tree Method). Skala prioritas tujuan diperoleh
dengan mengurutkan tujuan perancangan dari level tertinggi hingga level terendah. Alat pencacah
pelepah sawit memiliki 5 tujuan utama yaitu bahan pembuat, dimensi alat, desain alat, fungsi dan
atribut tambahan. Atribut bahan dari alat pencacah sawit mempertimbangkan bahan kerangka
dengan pilihan besi U, besi siku dan besi H dan bahan tabung pencacah dengan ketebalan plat 2
mm, 3 mm atau 5 mm. Atribut dimensi mempertimbangkan dimensi tabung dengan pilihan
diameter 45 cm dan panjang 75 cm atau dimensi 50 cm dan panjang 75 cm. Sedangkan tinggi alat
pencacah memiliki pilihan 80 cm, 100 cm atau 110 cm. Atribut desain terdiri dari pisau pemotong
dengan pilihan mudah diganti atau lainnya, desain penutup tabung yang terdiri atas engsel dan
kait pengunci, pilihan putaran mesin 1600 rpm, 2000 rpm atau 2200 rpm. Cara menghidupkan
mesin terdiri dari starter elektrik atau manual dengan engkol. Atribut fungsi memiliki tambahan
penarik pelepah otomatis sedangkan atribut warna terdiri atas warna orange, hijau dan merah.
Atribut desain alat pencacah pelepah sawit dituangkan dalam bentuk pohon tujuan sehingga
diketahui tujuan utama dan tujuan tambahan. Hubungan antara tujuan utama dan tujuan tambahan
terlihat jelas dalam digram sistematis.
Sumber : https://satelit.ub.ac.id/index.php/satelit/article/view/1/1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar