Jumat, 21 Juni 2019

pengembangan potensi mobile games indonesia


Industri game adalah industri yang berkembang dengan cepat sepanjang tahunnya. Munculnya e-sport, pertandingan game skala internasional dan dikenalnya profesi-profesi yang berkaitan dengan game seperti professional player, pemain game untuk kompetisi, entertainer seperti streamer, Youtuber gaming dan indie developer.Bermain game tidak hanya menjadi hobi, tetapi sudah menjadi sebuah profesi.
 Kemajuan teknologi menghadirkan mobile games, model game yang lebih pratis dan memiliki mobilitas tinggi. Pengembang game besar platform PC, PlayStation, Xbox mulai tertarik mengembangkan gamenya menjadi mobile games, terutama untuk menarik pasar besar di Asia. Perkembangan mobile games di Indonesia tidak ketinggalan, pendapatan industri game di Indonesia tinggi. Dari anak-anak sampai orang dewasa memiliki preferensi game masing-masing dan mobile games memberi kemudahan untuk dimainkan pada waktu luang atau saat kumpul bersama teman. Beberapa tahun terakhir banyak mobile games yang booming di Indonesia, dengan berbagai genre dan segmen pasar yang beragam.
 Sayangnya, meskipun mobile games memiliki pasar yang besar di Indonesia, belum banyak pengembang lokal yang besar di Indonesia. Berdasarkan informasi dari Kominfo tahun 2017, pelaku industri game lokal hanya menguasai 10 persen dari total nilai pendapatan industri game Indonesia. Pengembang yang populer kebanyakan berasal dari luar negeri. Hal ini tentu disayangkan melihat peluang pendapatan negara dan terbukanya lapangan perkerjaan baru karena minat pemain Indonesia yang tinggi. Indonesia juga memiliki pengembang dan programmer handal yang gamenya berpotensi menarik minat pemain skala global.
Hambatan yang akan dihadapi adalah mempopulerkan game ke publik dan meningkatkan jumlah pemain. Game akan cepat populer ketika banyak dimainkan orang-orang. Solusi terbaik adalah dengan promosi yang masif. Sarana promosi terbaik yaitu melalui influencerdari berbagai platform media sosial seperti YouTube, Instagram, Twitch, dan lain-lain.
Delurium Business Model Canvas
Delurium adalah pengembang mobile games Indonesia yang memiliki tujuan menjadi perusahaan pengembang mobile games terbaik nasional kelas dunia. Tim Delurium terdiri dari pengembang game lokal yang tidak diragukan keahliannya. Delurium akan merilis beragam game berbasis mobile dengan genre yang bervariasi, diantaranya MMORPG, battle royale, simulation, arcade, action, dan lain-lain. Game pertama yang akan dikembangkan dan menjadi fokus utama Delurium yaitu open world RPG, Quest of Valhalla, model game ini dapat diminati berbagai kalangan. Game Delurium dapat diunduh secara gratis (free to play) dan terdapat in game purchases.
1. Customer Segments
Delurium memilih target konsumen usia 13 tahun ke atas. Game yang akan dihadirkan beragam, mulai dari game family friendly untuk anak-anak dan game yang lebih kompleks dan rumit untuk orang dewasa. Game Delurium bisa dimainkan siapa saja, dari pelajar sampai orang dewasa karena bisa dimainkan melalui smartphone.
2. Value Propositions
Delurium memiliki keunggulan dan manfaat yang dijelaskan dalam Value Proposition. Nilai yang diberikan Delurium untuk dapat memenuhi kebutuhan dan harapan dari pemain yaitu:
           Free to play
 Game Delurium bersifat free to play, dapat dimainkan secara gratis.  Model ini memberikan pemain akses gratis ke permainan dan pemain dapat memilih untuk melakukan pembelian in game untuk mendapatkan barang virtual atau untuk meningkatkan pengalaman bermain melalui fitur yang berbayar. Akses gratis ke permainan menghalangi hambatan pemain untuk mencoba terlebih dahulu dan memutuskan membeli fitur berbayar atau tidak.
            Play with friends
Game Delurium semakin seru apabila dimainkan bersama teman. Terdapat fitur invite untuk mengundang teman bermain dan fitur percakapan dalam permainan yang memudahkan interaksi. Beberapa kegiatan dalam permainan akan mendorong pemain untuk bermain dalam tim, sehingga mendorong pemain berkenalan dengan orang baru dan membentuk komunitas. 
            Newness
Berbeda dengan game kebanyakan, game Quest of Valhalla menggabungkan beberapa genre yang sudah ada dalam satu game. Quest of Valhalla merupakan game open world, dimana pemainnya dapat mengeksplor dunia dalam game dengan bebas. Kegiatan yang dapat dilakukan saat mengeksplor game ini bermacam-macam, sesuai preferensi pemain. Apabila pemain suka dengan mode battle royale, pemain dapat memilih peran yang sesuai dan meningkatkan level dengan cara tersebut. Sementara yang lebih suka mode puzzlejuga dapat meningkatkan level sesuai cara yang mereka sukai. Quest of Valhalla menggabungkan berbagai genre dan hal ini belum dilakukan game-game lain.
3. Channels
   Dalam Business Model Canvas, kanal terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut;

Mala Reversible Tote Bag

  1. Deskripsi Brand
Mla merupakan produk tote bag reversible atau tote bag yang dapat dibalik sisi dalam dan sisi luarnya dengan design dan warna yang berbeda. Mla hadir sesuai peluang pasar yang ada bahwa saat ini banyak anak muda maupun dewasa yang ingin tampil trendy dan memerlukan tote bag untuk keperluan mereka sehari-hari. Mla terinspirasi dari bahasa Irlandia yang berarti tas.
 Produk ini diperuntukkan untuk orang-orang dengan mobilitas tinggi, suka berpergian, dan beraktivitas padat, sehingga memerlukan tempat untuk membawa barang-barang mereka. Produk ini hadir juga dengan kantung di kedua sisi tas, yaitu di sisi dalam dan sisi luar yang dapat memudahkan untuk menaruh barang. Mla  hadir dengan warna-warna netral agar pelanggan dapat lebih mudah dalam mencocokkan warna produk dengan warna pakaian atau outfit mereka.
  1. Business Model Canvas
Selanjutnya, akan dibahas secara deskriptif mengenai Business Model Canvas (BMC) dari bisnis Mla. Hal ini penting untuk dijadikan alat dalam menganalisa serta merancang model bisnis secara terstruktur. Berikut akan dijelaskan satu per satu sembilan elemen dari BMC. Sembilan komponen yang ada tersebut adalah sebagai berikut, Customer Segment, Customer Relationship, Customer  Channel, Revenue Structure, Value Proposition, Key Activities, Key  Resource, Cost  Structure, dan Key Partners.
Customer Segments
Customer segments adalah kelompok target konsumen yang akan kita bidik untuk menjadi pelanggan kita. Pelanggan merupakan inti dari suatu bisnis, karena tanpa adanya pelanggan maka perusahaan kita tidak dapat berjalan ataupun bertahan. Dalam upaya memuaskan pelanggan, perusahaan perlu mengelompokkan pelanggan ke dalam beberapa jenis segmen yang berbeda-beda sesuai dengan kesamaan kebutuhan, perilaku, keinginan dan atribut lainnya. Kami mensegmentasikan produk kami untuk orang-orang yang bermobilitas tinggi dan beraktivitas padat sehingga memerlukan tempat untuk membawa barang-barang mereka.
Produk kami dibuat untuk orang-orang yang ingin terlihat trendy dengan design-design tote bag yang berbeda dalam satu tas. Segmentasi produk kami juga kepada orang-orang yang menginginkan kepraktisan dalam memperoleh design yang berbeda, yaitu dengan cukup membalikkan tote bag sisi luar dan sisi dalamnya saja. Kami menetapkan target konsumen kami sebagai masyarakat urban dengan penghasilan menengah keatas yang berumur 15-35 tahun.
Value Proposition
Convenience
Pada Value Proposition kami memfokuskan pada nilai yang diberikan kepada pelanggan, apa yang bisa kami tawarkan dari produk yang menjadi nilai tambahan daripada produk lain yang sudah ada di pasar sehingga menghasilkan keunggulan kompetitif. Produk kami memiliki nilai convenienve, yang berarti produk kami menawarkan kemudahan kepada para pelanggan. Pelanggan dengan mudahnya dapat membalikkan sisi luar menjadi sisi dalam tote bag atau sebaliknya untuk mendapatkan warna tas yang berbeda. Produk ini hadir juga dengan kantung di kedua sisi tas, yaitu di sisi dalam dan sisi luar yang dapat memudahkan untuk menaruh barang.
Design
Desain yang dipilih untuk menjual produk kami disesuaikan pada bagaimana desain menarik perhatian target audiens yang telah kami tetapkan. Warna netral adalah warna yang kami pilih untuk produk kami agar pelanggan dapat lebih mudah dalam mencocokkan warna produk dengan warna pakaian mereka. Kami memilih warna-warna yang netral gender, sehingga dapat digunakan oleh siapapun, serta dengan desain yang simple untuk menarik audiens di kategori usia yang lebih muda maupun yang lebih tua.
Eco-friendly
Penggunaan kantong plastik seolah sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan pada kehidupan sehari-hari, khususnya masyarakat di Indonesia. Namun, dengan adanya kesadaran, perubahan kebiasaan tersebut akan dapat lebih mudah dilakukan. Mla  dapat dijadikan solusi untuk pengurangan kantong plastik karena dapat dijadikan tas belanja yang dapat dipakai berulang-ulang. Dengan ukuran tas yang lebih besar dari ukuran tote bag pada umumnya, Tutu Tote Bag memiliki ruang cukup luas untuk menaruh barang-barang belanja pelanggan.
Comfort
Produk kami dibuat dengan bahan yang berkualitas dan nyaman. Bahan yang digunakan adalah bahan kanvas yang memiliki tekstur halus, tebal, dan tidak kaku. Walaupun tekstur bahan kami tebal, Mla tetap ringan jika dipakai. Hal ini menjadikan Mla tetap nyaman untuk digunakan.
Channels
  • Awareness
Saat perusahaan memulai untuk meningkatkan kesadaran (awareness) pelanggan atas produk yang ditawarkan. Untuk memperkenalkan produk kami kepada publik, kami akan memasarkannya secara online menggunakan media sosial seperti Instagram & Youtube untuk dalam bentuk konten visual mengenai produk yang kami tawarkan. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan influencer yang akan mempromosikan produk kami menggunakan video dan foto. Selain secara online, kami juga mengandalkan cara pemasaran offline yaitu dengan Word of Mouth. Pelanggan yang sudah membeli produk kami dapat menyampaikan kepada lingkungan mereka mengenai produk kami dari mulut ke mulut.
  • Evaluation
Tahap evaluation merupakan tahap dimana perusahaan akan membantu pelanggan untuk mengevaluasi proposisi nilai yang ditawarkan. Untuk meyakinkan pelanggan atas nilai yang ditawarkan dari produk Mla, kami akan menggunakan sosial media sebagai wadah untuk menyalurkan konten beserta informasi lengkap mengenai produk kami. Informasi yang akan disampaikan melalui Instagram yaitu kelebihan dari produk tote bag kami dan juga perbandingan yang dilakukan atas pesaing-pesaing kami. 
Untuk menunjukkan perbandingan antara produk Mla dengan produk tote bag lainnya, kami akan menekankan kelebihan-kelebihan dari produk kami bahwa produk Mla menekankan nilai convenience, comfort, dan eco-friendly. Selain konten informatif berbentuk visual di Instagram, kami juga akan menyertakan link di Instagram dimana akan terdapat booklet dimana informasi lebih detail mengenai produk serta list pricing akan didapatkan pada booklet tersebut

hal kecil yang berarti

LATAR BELAKANG MASALAH.  
Permasalahan sampah plastik di dunia dan di Indonesia sudah bukan masalah faktual yang asing, melainkan menjadi sebuah permasalahan besar yang perlu dicari jalan keluarnya. Berdasarkan hasil penelitian dari ScienceMag, jumlah produksi sampah plastik dunia sejak tahun 1950 hingga 2018 selalu menunjukkan peningkatan seiring bertambahnya jumlah penduduk dunia. Dimulai dari angka 2 juta ton sampah plastik dari tahun 1950 hingga lebih dari 381 juta ton pada tahun 2018. Jenis sampah plastik yang menjadi polutan bervariasi diantaranya adalah bungkus makanan, botol plastik, sedotan, kantong plastik, tutup botol, sampai dengan alat makan plastik. Sampah-sampah ini merupakan jenis sampah yang sulit didaur ulang dan tidak dapat langsung dialihfungsikan sehabis pakai. 
Di Indonesia, angka sampah plastik mencapai 64 juta ton per tahun dengan 3,2 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut. Angka tersebut berhasil membuat Indonesia menduduki posisi kedua setelah Cina dalam hal produksi sampah plastik. Lebih lanjut lagi, diantara 3,2 juta ton sampah plastik yang terbuang ke laut, terdapat 10 miliar lembar sampah kantong plastik atau setara dengan 85,000 ton sampah kantong plastik yang pada akhirnya terpecah menjadi mikro plastik dan membahayakan ikan-ikan kecil di laut. Indonesia pada saat ini belum banyak memiliki lembaga yang menaungi alokasi pengolahan sampah plastik serta, kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah plastiknya sendiri juga rendah. 
Belum mampunya Indonesia dalam mengolah sampah plastik menyebabkan berbagai masalah serius namun tidak disadari oleh masyarakat Indonesia sendiri. Dampak secara nyatanya, sampah plastik yang tidak dapat diolah di Indonesia seringkali menewaskan hewan laut karena pembuangan yang dilakukan masyarakat tidak bertanggung jawab. Menjadikan keberadaan sampah plastik masalah bersama seluruh manusia. 
HUNI hadir untuk membantu masyarakat mengurangi permasalahan sampah plastik sekali pakai dengan produk yang berupa Novelty Beeswax Wrap. Produk ini merupakan bungkus makanan yang berbahan dasar kain dengan lapisan beeswax yang dapat dibentuk mengikuti bentuk makanannya. Wrap ini dapat digunakan berkali-kali sehingga, bukan termasuk golongan sampah sekali pakai buang. Penggunaan HUNI ini dapat diaplikasikan untuk membungkus potongan makanan seperti, keju, sayuran, roti, buah, rempah dan lain-lain. HUNI juga dapat digunakan untuk menutupi mangkok atau piring pengganti plastic foil yang sering digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. 
HUNI yang memiliki produk Novelty Beeswax Wrap, menyediakan food wrap dengan desain yang bukan pada umumnya dan eye-catchy sehingga, menimbulkan rasa senang atau bangga ketika pengguna memanfaatkan food wrap pribadi untuk membungkus makanannya. Sesuai dengan title nya yaitu "Novelty", HUNI berkomitmen untuk membantu mengurangi permasalahan lingkungan dengan cara yang menyenangkan atau tidak biasa bagi penggunanya. 
BUSINESS MODEL CANVAS
Pada bagian ini, akan dibahas pemaparan mengenai Business Model Canvas (BMC) dari HUNI yang akan dijadikan landasan bisnis HUNI beroperasi dari saat ini hingga lima tahun kedepan. Berikut ini adalah pemaparannya. 
  1. Customer Segments
Segmentasi pasar yang akan ditetapkan oleh HUNI adalah pada mass market dengan pertimbangan bahwa produk ini mudah dijangkau dan dapat digunakan oleh masyarakat umum. Segmentasi yang akan dilakukan adalah wanita dari umur 15 sampai dengan 60 tahun. Hal ini dikarenakan pengguna beeswax wrap mayoritas adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya melakukan kegiatan memasak atau berbelanja sayur dan buah. Namun, pada Novelty Beeswax Wrap ini didesain dengan wrap yang eye-catchy sehingga, selain ibu rumah tangga, dapat menggunakannya tanpa merasa "tua". Melalui desain yang ditawarkan, HUNI ingin menyasar segmentasi anak muda yang sering menyantap masakan diluar rumah dan sering melakukan take away makanan. 
  1. Value Propositions
Manfaat yang ditawarkan dengan keberadaan HUNI adalah sebagai berikut. 
  • Eco-conscious
Bagi para pengguna HUNI, setiap wrap yang digunakan dapat dicuci dan digunakan kembali. Sehingga, melalui penggunaan HUNI, setiap konsumen telah membantu pengurangan sampah plastik yang semakin lama semakin menimbun dan mengancam ekosistem makhluk hidup. 
  • Eye-catchy Design
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa melalui desain produk yang menarik akan lebih berpengaruh untuk mendorong keputusan pembelian konsumen. Sehingga, melalui desain yang HUNI buat, akan mencakup desain yang sesuai dengan kategori umur target segmentasi agar pelanggan HUNI merasakan pride dalam menggunakan food wrap dari HUNI. 
  • Food Safe 
Berdasarkan penelitian yang berlangsung di Amerika Serikat, lapisan beeswax dinyatakan aman untuk bersentuhan dengan makanan. Sehingga, penggunaan HUNI tidak akan mengkontaminasi dan membahayakan makanan yang berada di dalamnya. 
  1. Channels
Channels atau saluran merupakan cara untuk mendeskripsikan bagaimana HUNI untuk melakukan komunikasi dan mencapai target pasarnya untuk memasarkan produk dan value yang ditawarkan. Berikut adalah rincian tahapan dari channels yang akan dilakukan oleh HUNI. 

rencana pengembangan sora

"Sora is a solution for urban people longing for a break from the hustle and bustle. Providing survival kits for your various urban situations, we're here to complete your daily essentials with products that you don't normally think about. The products include Commuter Kit for people who go through the hassle of day to day public transport, Apartment Kit for people who longs for more comfort in their homes, and The Deep Sleep Kit for people who craves a pleasant rest."
Berikut ini adalah Rencana Pengembangan Usaha yang akan 'Sora' lakukan setelah melakukan produksi dan penjualan:
1. Pengembangan atau penambahan varian produk
Salah satu upaya yang kami lakukan agar dapat mempertahankan pelanggan lama serta menarik pelanggan baru adalah dengan melakukan pengembangan atau penambahan produk baru dalam bisnis kami. Dengan melakukan pengembangan atau penambahan produk baru, kami juga dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di antara para pesaing yang ada. Sebagai bisnis yang bergerak dibidang lifestyle, perkembangan merupakan hal yang terjadi dengan sangat cepat. Para pesaing kerap muncul dengan ide-ide baru yang inovatif dan menarik bagi para pelanggan. Oleh karena itu pengembangan atau penambahan produk baru dalam bisnis kami merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Rencana pengembangan usaha yang akan dilakukan oleh SORA adalah dengan menambah varian produk baru dalam survival kit kami. Kami melihat adanya peluang untuk mengembangkan suatu survival kit yang dibutuhkan oleh masyarakat urban ketika berpergian keluar kota atau keluar negeri. Selain itu kami sebagai mahasiswa juga melihat peluang untuk membuat suatu survival kit baru yang dapat memberikan kenyaman dan mempermudah para mahasiswa ketika mereka menghadapi ujian-ujian. Melihat banyaknya peluang untuk mengembangkan varian produk tersebut, kami tertarik untuk membuat dua survival kit terbaru yaitu travel kit dan exam 101 kit. 
Travel kit merupakan survival kit yang ditujukan kepada masyarakat urban sebagai kumpulan produk yang dapat membantu memberikan kenyamanan selama mereka bepergian, baik itu keluar kota maupun keluar negeri. Dalam survival kit tersebut, kami menawarkan beberapa produk seperti anti wrinkle spray, aromatherapy inhaler, ear plug, dan sleep eye mask. Anti wrinkle spray dapat digunakan bagi para traveller untuk merapikan baju mereka yang berkerut. Aromatherapy inhaler dapat digunakan untuk memberikan rasa nyaman bagi mereka di sepanjang perjalanan. Ear plug dan sleep eye mask dapat digunakan untuk membantu mereka menghindari hiruk pikuk yang ada di sekitar mereka dan mempermudah mereka untuk tidur di perjalanan.
Exam 101 kit merupakan survival kit yang ditujukan kepada masyarakat urban terutama mahasiswa dan pelajar sebagai kumpulan produk yang dapat membantu memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi mereka ketika menghadapi ujian-ujian. Dalam exam 101 survival kit tersebut, kami menawarkan beberapa produk seperti aromatherapy inhaler, dua aromatherapy candle dan pocket agenda. Aromatherapy inhaler dan aromatherapy candle dapat digunakan untuk memberikan rasa nyaman melalui aromanya yang memudahkan mereka untuk menghadapi berbagai ujian-ujian. Lalu pocket agenda yang dapat digunakan untuk membantu mereka mengorganisir jadwal kegiatan-kegiatan mereka sehari-harinya.
2. Pengembangan dan Penyesuaian Segmen Pelanggan
Pada bagian ini, pengembangan segmen pelanggan menyesuaikan dengan penambahan variasi produk yang telah direncanakan. Dengan menggunakan jenis segmentasi konsumen yaitu segmented, maka kami membedakan segmen pasar yang ada sesuai kebutuhan pelanggan dan masalahnya masing-masing. Adanya rencana untuk menambah varian produk baru yaitu travel kit dan exam 101 kit, maka terdapat penambahan segmentasi pasar sesuai dengan varian produk baru yang kami tawarkan, yaitu:
  1. Travel kit: Kumpulan produk ini ditujukan untuk para konsumen yang sedang atau sering bepergian, baik itu keluar kota maupun keluar negeri.
  2. Exam 101 kit: Kumpulan produk yang ditujukan untuk para mahasiswa dan pelajar yang sedang menghadapi ujian.
Namun adanya penambahan varian produk tersebut tidak mengubah target konsumen yang sudah ditetapkan pada awal perencanaan bisnis. Target konsumen kami merupakan masyarakat urban dengan penghasilan menengah keatas yang berumur 15-48 tahun.
3. Penyesuaian Value Proposition
  1. Compact
Nilai yang kami tawarkan dari produk kami yang membedakan dari produk pesaing kami yaitu Compact products, yang dimaksud dengan compact adalah serangkaian produk yang digabung dan dikelompokkan menjadi satu. Dengan ini, pelanggan tidak harus membeli dan mencari produk sendiri-sendiri, tetapi dimudahkan dengan kurasi produk yang telah kami kelompokkan menjadi satu sesuai kebutuhan. Produk kami menawarkan multiple product pada setiap kit, sehingga dengan mengelompokkannya menjadi satu juga memudahkan pelanggan untuk bisa membawa kit kami dalam perjalanan dengan mudah.
  1. Convenience 
Dalam proses pembuatan produk ini, kami tidak hanya melihat diri kami sebagai bisnis yang mencari untung, tetapi kami disini mencari solusi bagi pelanggan. Untuk melakukan itu kita harus berpikir sebagai pelanggan, apa yang menjadi kesulitan bagi mereka, itulah peluang kami untuk membantu. Bagi masyarakat urban kesulitan mereka salah satunya adalah kenyamanan, untuk mencapai kenyamanan tersebut dibutuhkan usaha yang lebih dan terkadang mereka enggan mencari itu. Oleh karena itu kami menawarkan solusi praktis untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat tanpa usaha ekstra yang tidak perlu.
  1. Practical 
Produk kami telah disesuaikan fungsinya sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi pada setiap situasi dan kondisi yang ditujukan. Dalam proses pembuatan produk, kami telah melakukan pengkajian mengenai essential oil yang merupakan bahan utama dari produk-produk kami. Sehingga essential oil yang digunakan pada setiap produk memang memiliki khasiat masing-masing yang sesuai dengan kit yang ditujukan. Tujuan utama dari pilihan kombinasi essential oil yang digunakan ditujukan untuk memberikan kemudahan untuk tidur khusus untuk Deep Sleep Kit, serta memberikan kenyamanan dan mengurangi tekanan stress untuk Commuter Kit dan Apartment Kit. Sehingga, survival kit kami mampu memberikan solusi efektif untuk masalah yang ada dan cocok untuk situasi dimana produk kami dibutuhkan.

ide bisnis baju muslim dua sisi

BAB I PENDAHULUAN
Bisnis yang akan saya kembangkan adalah baju muslim model kaftan yang memiliki warna berbeda untuk masing masing sisinya sehingga dapat digunakan bolak-balik dengan warna yang berbeda. Produk ini berguna bagi kaum wanita yang menyukai dua warna sekaligus dalam suatu model pakaian, sehingga tidak perlu membeli dua produk. Dalam hal ini, produk tersebut  adalah baju muslim yang identik digunakan pada saat lebaran, ketika buka puasa bersama, maupun digunakan sehari-hari bagi yang menggunakan hijab.
Bisnis pakaian di Indonesia kini memiliki peluang besar, tercermin dari menjamurnya penjualan pakaian di social media seperti Instagram dan Facebook, Selain itu, kini di kalangan anak muda maupun orang tua sedang banyak yang melakukan 'hijrah' atau mulai menggunakan hijab, sehingga fenomena ini membuka peluang bagi bisnis fashion di bidang pakaian muslim untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang tersebut.
Namun, berkembang pesatnya bisnis pakaian di social media selain menjadi peluang juga dapat menjadi ancaman sebab semua pengusaha pakaian pada platform tersebut juga berusaha meraih sebesar-besarnya pangsa pasar yang ada.
BAB II BUSINESS MODEL CANVAS
A.Customer Segments
Target konsumen bisnis pakaian ini adalah perempuan muslim yang menggunakan ketika Idul Fitri dan Idul Adha, maupun perempuan muslim berhijab yang menggunakan baju muslim untuk sehari-hari. Sehingga segmen konsumen yang diambil adalah mass market yaitu sekelompok pelanggan besar yang memiliki kebutuhan atau keinginan yang sama. Dari segi usia, kelompok pelanggan yang dituju adalah perempuan dewasa dengan umur 18 sampai 35 tahun. Serta kelompok pelanggan menyukai pakaian yang simpel namun elegan.
B. Value Propositions
Perbedaan baju muslim ini dengan yang lainnya adalah dari segi bahan yang halus dan tidak tembus pandang serta terdiri dari dua warna yang berbeda sehingga dapat dibolak-balik kedua sisinya. Keunggulan produk ini membuat pelanggan tidak perlu membeli dua baju muslim untuk dua hari lebaran. Alternatif lainnya adalah pelanggan dapat menggunakan baju yang sama pada Idul Fitri dan Idul Adha, namun dengan warna yang berbeda dalam 1 produk.
Value proposition yang diusung adalah sebagai berikut:
- Simplicity
Simplicity atau kesederhanaan, yang artinya produk ini dirancang dengan desain yang simpel namun tetap bernuansa Hari Raya dengan disertai hiasan atau ornamen yang dibordir.
- Fashionable
Fashionable ditujukan bagi semua wanita modis yang memperhatikan gaya berpakaiannya.
- Chic
Chic yang berarti elegan dan stylish, dengan menggunakan produk ini membuat pemakainya terlihat memiliki gaya yang modern.
C. Channels
Dalam melakukan penawaran produk, bisnis ini menggunakan saluran-saluran sebagai berikut, yaitu:
- Awareness: untuk meningkatkan awareness masyarakat akan produk yang tergolong relatif baru ini, dilakukan pemasaran melalui media online seperti Instagram, Facebook serta marketplace yang terkenal di Indonesia seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee. Selain itu juga mengembangkan word-of-mouth kepada keluarga, teman dan bergabung dengan komunitas.
- Purchase: pelanggan dapat membeli produk melalui sosial media seperti Facebook dan Instagram sebab kedua platform ini memiliki basis pelanggan yang besar, populer dan banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, produk juga dapat ditemui di marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee. Untuk pengembangannya jika brand sudah cukup terkenal akan dijual di marketplace khusus fashion seperti Zalora atau Berrybenka. Hal ini dilakukan agar pecinta fashion maupun pelanggan yang menggunakan baju muslim terpapar oleh produk ini. Dengan menggunakan marketplace, calon pelanggan dapat melihat review terlebih dahulu sebelum membeli produk, serta keuntungannya bagi bisnis bisa mendapatkan kepercayaan pelanggan. Sedangkan untuk calon pelanggan yang ingin menanyakan informasi produk lebih lanjut dapat menghubungi kontak di WhatsApp maupun Line. Untuk saat ini di berbagai tempat, pelanggan hanya dapat membeli melalui online, sehingga calon pelanggan perlu memiliki koneksi internet untuk dapat membeli produk.

BUSINESS MODEL CANVAS

BAB I
PENDAHULUAN

FORW. Sebuah bisnis ritel gerakan ramah lingkungan yang berfokus pada alas kaki berbahan dasar sustainable kulit, ini adalah misi kami untuk menghadirkan sustainable fashion bagi semua orang dan kami menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari semua yang kami lakukan. Kami berinvestasi dalam infrastruktur bangunan ramah lingkungan untuk meminimalkan limbah, air, dan jejak kaki energi kami. Dengan memberikan pelatihan di tempat kerja dan peluang untuk pertumbuhan, kami juga berinvestasi pada orang-orang yang memungkinkan revolusi ini.
Inti dari merek kami adalah produk itu sendiri, kami berharap bahwa produk berbicara untuk dirinya sendiri, dari kisah yang diwakilinya hingga perjalanan pembuatannya. Proses desain dimulai dengan kami memikirkan apa yang benar-benar ingin kami kenakan saat ini dan bagaimana itu akan mewakili orang yang memakainya. Kemudian kami mencari bahan yang paling indah dan berkelanjutan untuk membuat desain itu hidup.
Bagaimana kita bisa menyebut diri kita berkelanjutan? Apa faktanya? Setiap langkah dari jalur produksi kami pastikan untuk meminimalkan limbah yang diproduksi, dari kain yang kami gunakan seperti kapas daur ulang, kapas organik, linen, dan benang yang terbuat dari pakaian lama dan limbah kain. Untuk menjaga rantai pasokan kami berkelanjutan, kami memastikan pemasok kami memperhatikan standar sosial dan lingkungan dengan serius. Dengan sumber secara lokal bila memungkinkan, kami meminimalkan dampak lingkungan dan memastikan tidak ada tenaga kerja tidak adil atau tidak aman yang digunakan untuk membuat pakaian kami.
Langkah selanjutnya adalah dimana kami menjalankan bisnis kami, tempat untuk produksi dan di mana kami akan menjualnya. Ini adalah misi kami untuk merancang tempat dan penyimpanan yang inovatif dan ramah lingkungan. 
Kami menggabungkan material seperti perlengkapan LED, rammed earth, isolasi kain daur ulang, memastikan keberlanjutannya. Di mana kami akan menjual produk? Rata-rata, e-commerce menggunakan lebih sedikit energi daripada ritel tradisional. Berita baik karena sebagian besar pelanggan kami menggunakan situs online kami untuk melakukan pembelian. Kami memastikan pada akhir produksi yang panjang ini, dan ketika produk itu sendiri mencapai pembeli kami, semakin sedikit limbah yang diproduksi, tetapi Zero waste adalah tujuan kami.

BAB II
Business Model Canvas

Business Model Canvas adalah sebuah model bisnis gambaran logis  mengenai bagaimana sebuah organisasi menciptakan, menghantarkan dan menangkap sebuah nilai (Osterwalder,  2010).  Canvas ini membagi business  model  menjadi  9  buah  komponen utama, kemudian dipisahkan  lagi  menjadi komponen kanan (sisi kreatif) dan  kiri (sisi logika).  Persis  seperti  otak  manusia.  Ke sembilan komponen yang ada tersebut adalah sebagai berikut, (diurut dari  kanan ke kiri) Customer Segment, Customer Relationship, Customer  Channel, Revenue Structure, Value Proposition, Key Activities, Key  Resource, Cost  Structure, dan Key Partners.

Customer Segments
Customer segments adalah kelompok target konsumen yang akan kita tentukan untuk menjadi pelanggan kita. Pelanggan merupakan inti dari suatu bisnis, karena tanpa adanya pelanggan maka perusahaan kita tidak dapat berjalan ataupun bertahan. Dalam upaya memuaskan pelanggan, perusahaan perlu mengelompokkan pelanggan ke dalam beberapa jenis segmen yang berbeda-beda sesuai dengan kesamaan kebutuhan, perilaku, keinginan dan atribut lainnya. Jenis segmen pelanggan yang telah kami tetapkan adalah niche market. 
Pada jenis segmen ini, kami menawarkan produk yang spesifik dan terspesialisasi, produk kami ditujukan untuk kedua gender, perempuan dan laki-laki dewasa dengan penghasilan menengah keatas dikarenakan saringan dari harga dari produk kami yang tergolong niche.
Kami memahami bahwa orang yang tertarik dengan produk kami mengetahui visi kami dan memiliki tujuan yang sama kami miliki dalam menyelamatkan lingkungan dengan menjadi sustainable conscious. 
Dengan menambahkan nilai tertentu itu datang dengan harga lebih dengan catatan bahwa setiap rupiah yang mewakili produk menghitung setiap keringat dan tenaga kerja yang dimasukkan ke dalam produksi tetapi juga dampak masing-masing garmen terhadap lingkungan. Dengan cara ini kita semua dapat melihat total biaya sehingga kami dapat membuat pilihan yang diberdayakan, dan kami dapat terus menciptakan solusi yang lebih baik ketika membuat pakaian. Dengan informasi ini dibagikan kepada pelanggan kami dengan harapan orang memahami nilai kami, mereka akan bersedia untuk membelinya.


Value Proposition
Newness
Pada Value Proposition kami memfokuskan pada nilai yang diberikan kepada pelanggan, apa yang bisa kami tawarkan dari produk yang menjadi nilai tambahan daripada produk lain yang sudah ada di pasar sehingga menghasilkan keunggulan kompetitif. Alas kaki mewakili sekitar 1/5 dari total dampak industri pakaian jadi dan hampir 1/4 dampak iklim. 97% dampak sepatu terjadi selama pemrosesan dan pembuatan bahan, jadi di situlah kami memusatkan perhatian kami sustainability. Nilai newness atau sifat baru terdapat pada produk kami produk sepatu dan sandal yang diproduksi dengan material-material sustainable seperti chrome-free leather, yang membedakan kulit leather ini dari yang lain adalah sebagian besar kebanyakan kulit disamak menggunakan kromium yang menghasilkan limbah beracun. 
Chrome-free leather menggunakan yang disebut penyamakan aldehida. Selain itu juga terdapat material-material lain seperti kapas daur ulang, kapas organik, linen, dan benang yang terbuat dari pakaian lama dan limbah kain  

Chic and Comfort
Desain yang dipilih untuk menjual produk kami disesuaikan pada perhatian target audiens yang telah kami tetapkan. Proses desain dimulai dengan kami memikirkan jenis sepatu apa yang benar-benar ingin dikenakan orang sekarang. Kami sumber material yang paling indah dan berkelanjutan yang memungkinkan untuk membuat desain itu hidup dengan cepat. 
Sebagian besar sepatu/sepatu sandal dirancang berbulan-bulan sebelum dirilis, tetapi di FORW sketsa dapat menjadi sepatu atau sandal dalam waktu sekitar satu bulan. Kami merancang dan membuat apa yang ingin pengguna kenakan saat ini. Kami percaya bahwa pakaian yang pas adalah bagian terpenting dari pakaian. Kami senang menginvestasikan waktu dalam menemukan pasangan yang cocok dan memastikan kenyamanan yang diprioritaskan.

Sustainability
Merupakan misi kami untuk menghadirkan apparel line yang berkelanjutan bagi semua orang. People, Planet & Profits adalah nilai inti, di mana kami memperlakukan semua orang di planet ini dengan hormat, percaya bahwa kami dapat berbuat lebih banyak dengan lebih sedikit, percaya bahwa perubahan iklim adalah masalah terbesar yang dihadapi planet ini, kami fokus pada keuntungan dan tahu mereka adalah kunci keberlanjutan FORW. Untuk mencapai semua visi itu, kami menempatkan keberlanjutan sebagai pusat dari semua yang kami lakukan. Ini adalah tujuan dan definisi yang berkembang, dan kami tidak memiliki semua jawaban. Tetapi kami ingin fokus pada upaya yang memiliki dampak terbesar.


Channels
Awareness
Pada tahap ini, perusahaan memulai meningkatkan kesadaran (awareness) pelanggan atas produk yang ditawarkan. Untuk memperkenalkan produk kita kepada publik, kami akan menggunakan media sosial seperti Instagram & Youtube untuk dalam bentuk konten visual mengenai produk yang kami tawarkan. Selain media sosial, kami juga mengandalkan Word of Mouth, dari pelanggan yang sudah membeli produk kami bisa lalu menyampaikan kepada pertemanan dalam ruang lingkupnya mengenai produk kami.

Evaluation
Tahap evaluation merupakan tahap dimana perusahaan akan membantu pelanggan untuk mengevaluasi proposisi nilai yang ditawarkan. Untuk meyakinkan pelanggan atas nilai yang ditawarkan dari produk FORW, kami akan menggunakan platform website dan sosial media sebagai wadah untuk menyalurkan konten beserta informasi lengkap mengenai produk kami. Informasi yang akan disampaikan melalui Instagram yaitu kelebihan dari produk survival kit kami dan juga perbandingan yang dilakukan atas pesaing-pesaing kami dalam bidang apparel line : sepatu dan sendal berbahan kulit. Untuk menunjukkan perbandingan antara produk FORW dengan produk lainnya, kami akan menekankan kelebihan-kelebihan dari produk kami bahwa produk SORA menekankan nilai chic, comfort, dan sustainability. Selain konten informatif berbentuk visual di Instagram, kami juga akan menyertakan link di Instagram dimana akan terdapat booklet dimana informasi lebih detail mengenai produk serta list pricing akan didapatkan pada booklet tersebut.

Purchase
Pada tahap ini, channel untuk memungkinkan pelanggan membeli produk yang ditawarkan akan ditetapkan. FORW akan menjual produk kami melalui saluran Online dan Offline. Penjualan yang dilakukan secara Online akan dilakukan melalui website kami di www.forw-ard.com, dimana proses transaksi pembelian akan dilakukan. Selain itu, FORW juga akan membuka penjualan secara Offline melalui local curated department store seperti GOODS Dept, Canva Living, dan Eco zest. Peran mereka dalam membantu bisnis kami adalah sebagai tempat pemasaran serta tempat jual yang dilakukan secara offline atau secara fisik di toko mereka masing-masing yang terletak di berbagai gerai di daerah Jabodetabek, selain dari toko fisik, masing-masing dari toko ini memiliki website ritel online sendiri dimana terdapat produk-produk yang mereka jual.
Delivery
Pada pembelian yang dilakukan secara online maka untuk menyampaikan produk kami kepada pelanggan, kami akan menggunakan jasa kurir yang menggunakan Real-Time Update dimana kurir akan memberikan pesan secara real time mengenai titik keberadaan produk dalam proses pengiriman. Berdasarkan penelitian yang sudah kami lakukan, jasa kurir yang kami gunakan untuk mengirimkan produk kami kepada pelanggan yaitu J&T dan NinjaVan Express.
Aftersales:
Tahap terakhir pada Channels bertujuan untuk menunjukkan bagaimana perusahaan memberikan dukungan purna jual kepada pelanggan. Dukungan aftersales yang kami lakukan yaitu adanya Customer Assistance dan Return Policy. Dukungan Customer Assistance merupakan bantuan yang dilakukan oleh kami kepada pelanggan apabila ada sebuah informasi yang perlu ditanyakan mengenai produk yang ditawarkan. Bantuan tersebut akan kami lakukan melalui website maupun email usaha bisnis kami. Selain itu, kami juga memberi dukungan purna jual dalam bentuk Return Policy yang akan dilakukan apabila produk yang diterima oleh pelanggan rusak atau cacat dalam proses pengiriman, untuk menangani permasalahan tersebut pelanggan dapat menukar balik produk yang cacat tersebut untuk produk baru. Return Policy berlaku hingga 3 hari setelah produk sampai ke konsumen.

Customer Relationship
Personal Assistance
Dalam customer relationship, kami bertujuan untuk membangun hubungan tidak hanya untuk mendukung keberlanjutan dari hubungan untuk melacak perjalanan pembelian dari pelanggan dan membantu mereka jika dibutuhkan, namun dengan fokus pada penekanan membangun hubungan kami dapat meningkatkan loyalitas pelanggan terhadap produk, dengan cara melibatkan mereka dalam menciptakan nilai dalam produk. 
Kerjasama ini dapat menghasilkan pemahaman lebih dalam mengenai kebutuhan dan keinginan pelanggan dan mencapai kreasi maksimum dari produk yang sesuai dengan standar penjual serta pembeli. 
Kategori dari hubungan pelanggan kami adalah, pertama personal assistance dimana kami sebisa dan semaksimal mungkin membentuk hubungan melalui interaksi manusia untuk memperlihatkan bahwa proses bisnis kami tidak selesai disaat produk sampai pada tangan pelanggan, tapi kami secara personal ingin memastikan nilai yang kami tawarkan ditangkap oleh pelanggan. Usaha kami agar hal ini terwujud adalah penggunaan platform seperti website kami di www.forw-ard.com dan melewati sosial media seperti Direct Message Instagram, Line, dan Email untuk mempermudah pelanggan menghubungi kami jika ada pertanyaan, saran, komplain, maupun urusan lain yang ingin disampaikan.

Revenue Streams
Arus pendapatan dari usaha kami akan  berasal dari penjualan produk kami. Mekanisme harga yang kami tetapkan adalah Fixed Pricing dengan List Price, dimana harga daripada suatu produk sudah ditetapkan dan tidak bisa ada proses negosiasi.

Key Activities
Key activity merupakan kumpulan proses kegiatan yang terjadi di dalam suatu perusahaan. Key Activity didefinisikan sebagai aktivitas kunci yang menggambarkan hal-hal terpenting yang harus dilakukan perusahaan agar model bisnisnya dapat bekerja. Beberapa aktivitas inti yang dilakukan oleh usaha kami adalah:

Control of production and manufacturing
Tentunya dalam menjalankan usaha ini, kami menjalankan proses produksi serta mengatur proses manufaktur produk kami. Dalam proses produksi, dimulai dengan brainstorming mengenai dari design, material apa saja yang dapat digunakan, sampai titik penjelasan apa yang bisa disampaikan melalui penjualan produk. Setelah menentukan komponen-komponen tersebut, kami mencari supplier dan vendor yang dibutuhkan untuk proses produksi tersebut. Kami mulai mencari supplier untuk material bahan dari chrome free leather, chrome free suede, organic cotton canvas, dan lainnya. Kami juga mencari vendor untuk membuat kertas daur ulang untuk packaging kami. Setelah menemukan semua supplier dan vendor yang dibutuhkan, kami memulai proses manufacturing produk.

Product and packaging design
Kemasan kami bebas plastik dan terbuat dari 100% produk kertas daur ulang dan film berbasis bio kompos. Tas pakaian kami terbuat dari plastik daur ulang dan selalu digunakan kembali. Itu yang terbaik yang bisa kami temukan, tetapi kami ingin itu menjadi lebih baik. Kemasan kami juga termasuk bahan yang dengan mudah dapat menjadi 100% kompos. Itu pada dasarnya berarti ia akan hancur dan sepenuhnya kembali ke Bumi seperti sampah organik, tidak meninggalkan bahan kimia beracun.

Creating a branding strategy
Kami juga merencanakan konsep dan strategi branding yang akan digunakan oleh usaha kami. Brand FORW menawarkan konsep sustainability and to bring awareness that bidang fashion adalah industri yang paling mencemari ketiga di dunia, dan salah satu konsumen air terbesar. Membuat kain ataupun material menggunakan air, energi, bahan kimia, dan sumber daya lain yang tidak terpikirkan oleh  kebanyakan orang. Kami berpendapat perubahan iklim itu nyata dan industri fashion tidak membuatnya lebih baik. Bergerak di dunia fashion memicu krisis iklim global ini, dengan usaha kami membangun brand FORW, berharap akan menciptakan sedikit perbedaan dan membuka percakapan tentang bagaimana industri ini bekerja dan membuat orang lain merasa sedang melakukan sesuatu untuk menciptakan gerakan perubahan untuk dunia yang lebih baik.

Marketing and promotion of the product
Setelah menetapkan strategi branding, kami pun melakukan perencanaan atas promosi dan marketing yang akan dilakukan. Strategi marketing kami dilakukan melalui social media dan word-of-mouth. Nilai-nilai yang ditawarkan oleh brand FORW akan kami salurkan melalui promosi di berbagai media sosial kami seperti instagram dan youtube. Dalam akun instagram, kami akan menyediakan katalog produk yang dapat dilihat oleh konsumen sehingga mereka mengetahui persis produk-produk apa saja yang ada serta penjelasan apa yang diwakilinya. Selain melakukan promosi melalui media sosial, kami juga akan bekerja sama dengan para micro influencer dengan cara mengirimkan produk kami kepada mereka untuk mereka post dan review di media sosial mereka.

Manage website, online orders and the distribution of the product
Dalam mengelola usaha, kami juga perlu mengatur penjualan kami yang dilakukan secara online melalui media sosial yaitu instagram. Konsumen dapat melakukan pemesanan produk melalui website kami dan kemudian pemesanan-pemesanan tersebut akan kami data dan proses lebih lanjut. Pembayaran dapat dilakukan menggunakan sistem transfer bank untuk memudahkan para konsumen. Pendistribusian produk akan dilakukan melalui jasa kurir seperti J&T dan Ninja Van. Dengan menggunakan jasa kurir ini kami dan konsumen akan mendapatkan Real-Time Update, dimana kurir akan memberikan pesan secara real time mengenai titik keberadaan produk dalam proses pengiriman.

Key Resources
Sumber Daya Utama yang menjadi kunci jalannya bisnis kami, dibagi menjadi empat jenis, yang pertama physical yaitu vendor untuk bahan-bahan packaging, dan kedua adalah human resources yaitu orang-orang yang bekerja dibalik pembuatan produk seperti penjahit, kurir pengantar barang dan kontribusi langsung dari kami para owner FORW dalam sebagian besar aktivitas yang dijalanan. Ketiga adalah financial, sumber daya keuangan kami merupakan startup cost dari owner FORW sendiri sebagai initial investment. Keempat adalah sumber daya intellectual yaitu penggunaan media sosial untuk menyalurkan brand identity dan brand story dari produk FORW.

Key Partners
Key Partners menggambarkan jaringan pemasok dan mitra utama yang bekerja sama dengan perusahaan agar Model Bisnis dapat berfungsi dan berjalan dengan lancar. Kami melakukan 2 jenis kemitraan dalam bentuk Buyer-Supplier Relationships to Assure Reliable Supplies dan Strategic Alliance Between Non-Competitor. Hubungan buyer-supplier dilakukan untuk menjamin pemasok bahan yang dapat diandalkan, diantaranya yaitu pemasok untuk bahan utama material kulit dari chrome free leather, chrome free suede, organic cotton canvas, dll serta bahan-bahan packaging. Hubungan Strategic Alliance Between Non-Competitor dibangun untuk mendukung penjualan dari produk yang kami tawarkan. 
Bentuk aliansi strategis dengan non-competitor yang kami lakukan adalah Influencer Endorsement, dimana kami memberikan produk kami kepada Micro-Influencer utama di media sosial dengan tujuan meningkatkan awareness mengenai produk kami dan juga meningkatkan penjualan, selain itu membangun partnerships dengan local curated department store seperti GOODS Dept, Canva Living, dan Eco zest. 
Peran mereka dalam membantu bisnis kami adalah sebagai tempat pemasaran serta tempat jual yang dilakukan secara offline atau secara fisik di toko mereka masing-masing yang terletak di berbagai gerai di daerah Jabodetabek, selain dari toko fisik, masing-masing dari toko ini memiliki website ritel online sendiri dimana terdapat produk-produk yang mereka jual.

Cost Structure
Struktur biaya menjelaskan biaya-biaya yang paling penting dan paling mahal dalam bisnis model FORW. Biaya terpenting yang kami maksud adalah biaya yang dikeluarkan dalam key activities kami untuk menciptakan dan memberikan nilai (value proposition), mempertahankan hubungan pelanggan (customer relationship), menghasilkan pendapatan (revenue). Kami membagi struktur biaya menjadi tiga, yang pertama production. 
Dalam bagian produksi, biaya yang paling mahal dan paling penting adalah material bahan kulit yang digunakan sebagai bahan utama dalam produk. Untuk mengatur persediaan bahan baku, biaya ini harus dikeluarkan oleh FORW dengan metode JIT Inventory Management untuk menghemat waktu dan biaya produksi dalam pengiriman dan penerimaan bahan baku produksi dari supplier ke tangan kami. Kedua adalah biaya operation yang dilakukan mulai dari pemotongan bahan, penjaitan material, penggabungan bahan-bahan, hingga menjadi suatu produk yang siap dijual.  
Ketiga adalah marketing yaitu biaya pemasaran yang menyangkut endorsement kepada micro-influencer. Biaya ini merupakan tanggungan kami karena produk kami akan kami berikan secara gratis dan bersyarat kepada orang-orang dengan engagement yang tinggi dalam penyebaran informasi peer-to-peer serta word-of-mouth.



BAB III
PENUTUP

Kami berharap dengan membangun brand FORW,  melalui visi kami untuk memimpin & menginspirasi cara berkelanjutan untuk menjadi modis, berinvestasi di masa depan, dan mengambil risiko untuk memecahkan masalah sulit, tidak hanya bermanfaat bagi diri kami sebagai tim, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kami. Kami berpedapat perubahan iklim itu nyata dan industri fashion tidak membuatnya lebih baik. 
Bergerak di dunia fashion memicu krisis iklim global ini, dengan usaha kami membangun brand FORW, berharap akan menciptakan sedikit perbedaan dan membuka percakapan tentang bagaimana industri ini bekerja dan membuat orang lain merasa sedang melakukan sesuatu untuk menciptakan perubahan untuk dunia yang lebih baik. Kami mendorong keberlanjutan ke depan.

melihat sisi salah kewirausahaan kita

Dalam beberapa tahun terakhir, "kewirausahaan" atau "entrepreneurship" menjadi satu tren gaya hidup yang membuat banyak orang terpikat. Dengan segala kelebihan yang ada padanya, berwirausaha seolah menjadi jalan keluar instan untuk membuat seseorang "naik kelas" menjadi seorang "bos", bukan lagi "pegawai". Tak heran, banyak orang berlomba-lomba merintis usaha sendiri, bahkan sampai berani berutang begitu banyak.
Sayangnya, antusiasme ini kerap menghadirkan satu situasi "salah kaprah". Karena, banyak orang berlomba-lomba menjadi wirausahawan/wati, tanpa pemahaman yang cukup, terkait apa yang sebenarnya ingin atau sedang mereka kerjakan.
Parahnya, apa yang mereka kerjakan justru merepresentasikan seberapa besar ego mereka. Tak heran, kita kadang melihat para "entrepreneurship-enthusiast" atau "so-called entrepreneur" ini merendahkan para "pekerja kantoran", "karyawan", atau sejenisnya, tanpa melihat diri sendiri. Alhasil, "entrepreneurship" berubah wujud sejenak menjadi "egopreneurship"
Padahal, sehebat apapun kemampuan seorang "entrepreneur", mereka tetap butuh bantuan orang-orang yang bersedia menjadi anggota tim kerja. Ya, tugas seorang "entrepreneur" yang baik tak hanya  tampil di atas panggung atau berpose depan kamera. Mereka juga dituntut untuk bisa mendelegasikan wewenang, dan mengkoordinir tim kerjanya.
Tanpa kemampuan itu, mereka hanya seorang pembual, yang hanya menjual cerita motivasi kosong dari panggung ke panggung. Di sini, atraksi badut sirkus atau "stand up comedy" jelas jauh lebih layak tonton, daripada cerita sukses rasa pepesan kosong.
Dari sudut pandang eksternal, seorang "entrepreneur" yang baik harus mampu melihat tren, bahkan menciptakan tren mereka sendiri. Mereka juga dituntut mampu memilah mana yang baik dan buruk buat usaha mereka. 
Tanpa kemampuan itu, secantik atau seganteng apapun penampilan mereka, badut maskot masih lebih baik dan lebih elok dilihat, dibanding "so-called entrepreneur", yang hanya jadi "badut maskot tetap" perusahaan.
Di sisi lain, seorang "entrepreneur" yang baik harus memahami esensi kewirausahaan yang utama, yakni "menciptakan nilai tambah yang dapat  memberdayakan diri sendiri dan sesama, tanpa melupakan kodrat sebagai manusia". Meski digaji, karyawan juga manusia. Mesin saja rusak jika dipaksa bekerja nonstop, apalagi manusia.
Dalam artian, mereka bisa memahami, kapan dan dimana urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi diletakkan pada tempatnya. Pemahaman inilah salah satu kunci, mengapa level negara-negara maju masih sulit kita kejar. Karena, mereka punya keseimbangan hidup yang baik sebagai dasarnya.
Kita tentu ingat, Tuhan sudah menciptakan segala sesuatunya dengan begitu seimbang. Ada gelap ada terang, ada laki-laki ada perempuan. Kita hanya perlu mengikuti semua perbedaan ini, karena perbedaan ada supaya keseimbangan dalam hidup tetap terjaga, bukan untuk diseragamkan, apalagi dilawan.
Pada akhirnya, kewirausahaan tak sebatas bicara soal kuantitas, tapi kualitas. Satu unit usaha yang mampu bertumbuh dengan baik, selalu lebih baik daripada sejuta unit usaha gagal. Karena, ia mampu memberdayakan dan memanusiakan manusia, bukan membuat manusia menjadi budak jeratan segunung hutang. 
Ingat, seorang "bos" tak akan pernah menjadi "bos", jika tak ada yang mau menjadi "anak buah", seperti halnya "produsen" dan "konsumen".
Kalau semua ingin jadi produsen, siapa konsumennya?

Kewirausahaan


KEWIRAUSAHAAN
1. Hakikat dan Konsep Dasar Kewirusahaan
Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.
Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).
Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803).
Beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Richard Cantillon (1775) : Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
2)Jean Baptista Say (1816) : Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
3) Frank Knight (1921) :Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan
4) Joseph Schumpeter (1934) : Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahanperubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru.
**Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk
(1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru,
(2) memperkenalkan metoda produksi baru,
(3) membuka pasar yang baru (new market),
(4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau
(5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
4) Penrose (1963) : Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam system ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
5) Harvey Leibenstein (1968, 1979) : Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
6) Israel Kirzner (1979) : Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
7) Peter F. Drucker : Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung maksud bahwa seorang wirausahan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
8) Zimmerer : Kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).
Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluangpeluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bias bersifat sementara atau kondisional.
Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.
Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta. Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.
Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek financial maupun personal, sosial, dan profesional (Soesarsono, 2002 : 48)
2. Ciri dan Watak Wirausaha
Ø Ciri-ciri dan watak kewirausahaan
1. Percaya diri Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistis, dan optimisme
2. Berorientasi pada tugas dan hasil Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
3. Pengambilan resiko Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan
4. Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
5. Keorisinilan Inovatif dan kreatif serta fleksibel
6. Berorientasi ke masa depan Pandanga ke depan, perspektif Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang menyebabkan munculnya produk baru arau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa.
Ø Karakteristik tipikal entrepreneur (Schermerhorn Jr, 1999) :
1. Lokus pengendalian internal
2. Tingkat energi tinggi
3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
4. Toleransi terhadap ambiguitas
5. Kepercayaan diri
6. Berorientasi pada action
Ø Karakteristik Wirausahawan (Masykur W)
1. Keinginan untuk berprestasi
2. Keinginan untuk bertanggung jawab
3. Preferensi kepada resiko menengah
4. Persepsi kepada kemungkian berhasil
5. Rangsangan untuk umpan balik
6. Aktivitas Energik
7. Orientasi ke masa depan
8. Ketrampilan dalam pengorganisasian
9. Sikap terhadap uang
Ø Wirausahawan yang berhasil mempunyai standar prestasi (n Ach) tinggi. Potensi kewirausahaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut : (Masykur, Winardi)
1. Kemampuan inovatif
2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
3. Keinginan untuk berprestasi
4. Kemampuan perencanaan realistis
5. Kepemimpinan berorientasi pada tujuan
6. Obyektivitas
7. Tanggung jawab pribadi
8. Kemampuan beradaptasi (Flexibility)
9. Kemampuan sebagai pengorganisator dan administrator
10. Tingkat komitmen tinggi (survival)
Ø Jenis Kewirausahaan (Williamson, 1961)
1. Innovating Entrepreneurship
Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif
Imitative Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur
3. Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.
4. Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersbut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain. Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977)
3. Proses Kewirausahaan
Tahap-tahap Kewirausahaan Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha :
a) Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
b) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap "jalan", tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
c) Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
d) Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan,
organisasi dan keluarga (Suryana, 2001 : 34).
Secara ringkas, model proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007
: 10 – 12) :
1. proses inovasi
2. proses pemicu
3. proses pelaksanaan
4. proses pertumbuhan
Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang
perlu diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :
a. mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan
b. pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana
c. SDM : tenaga kerja yang dipergunakan
d. kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha
e. organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
f. kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)
g. Pemasaran : lokasi dan tempat usaha
4. Faktor-faktor Motivasi Berwirausaha
Ciri-ciri wirausaha yang berhasil (Kasmir, 27 – 28)
a. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut
b. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
c. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik disbanding sebelumnya.
d. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
e. Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
f. Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
g. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.
h. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
Dari analisis pengalaman di lapangan, ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat berhasil dapat dirangkum dalam tiga sikap, yaitu :
a. jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan kondisi sebenarnya dari usaha yang dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini diperlukan karena dengan sikap tersebut cenderung akan membuat pembeli mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pengusaha sehingga mau dengan rela untuk menjadi pelanggan dalam jangka waktu panjang ke depan
b. mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti mempunyai gambaran yang jelas mengenai perkembangan akhir dari usaha yang dilaksanakan. Hal ini untuk dapat memberikan motivasi yang besar kepada pelaku wirausaha untuk dapat melakukan kerja walaupun pada saat yang bersamaan hasil yang diharapkan masih juga belum dapat diperoleh.
c. selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan diri kepada Tuhan untuk meminta apa yang diinginkan dan menerima apapun hasil yang diperoleh. Dalam bahasa lain, dapat dikemukakan bahwa ”manusia yang berusaha, tetapi Tuhan-lah yang menentukan !” dengan demikian berdoa merupakan salah satu terapi bagi pemeliharaan usaha untuk mencapai cita-cita.
Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Dan & Bradstreet business Credit Service (1993 : 1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu :
1. knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.
2. knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.
3. having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.
4. having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.
5. managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.
6. managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
7. managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
8. statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.
9. knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
10. copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 – 139)
Delapan anak tangga menuju puncak karir berwirausaha (Alma, 106 – 109), terdiri atas:
1. mau kerja keras (capacity for hard work)
2. bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people)
3. penampilan yang baik (good appearance)
4. yakin (self confidence)
5. pandai membuat keputusan (making sound decision)
6. mau menambah ilmu pengetahuan (college education)
7. ambisi untuk maju (ambition drive)
8. pandai berkomunikasi (ability to communicate)